12 Nov 2015

PENGANGGURAN, Katanya.

Pengangguran merupakan momok bagi sejumlah sarjana yang baru lulus dari kampusnya, ngeri, sangat menghawatirkan (yang khawatir). Saking khawatirnya Sampai-sampai cak Iwan fals merilis lagu yang judulnya “Sarjana Muda” untuk para pengangguran yang berisi aspirasi, “engkau sarjana muda resah mencari kerja mengandalkan ijasahmu, empat tahun lamanya bergelut dengan buku tuk jaminan masa depan”. Ah menciptakan lagu tak seserius itu cak.

Sebenarnya yang katanya pengangguran menurut mereka sudah bukan hal yang baru, ini sudah menjadi problem yang berkepanjangan di negara kita, setiap tahun pengangguran versi mereka mengalami fluktuasi, dan saat ini meningkat menjad 320 ribu jiwa, Katanya sih begitu. Wah jangan-jangan sahabat saya nanti menambah angka pengangguran itu, atau mungkin sebagian sahabat saya sudah termasuk diantara angka tersebut. Semoga saja iya.

Pengangguran itu relatif berroh, hanya soal persepsi saja kok. Boleh lah kita menghargai argumen mereka yang merumuskan kesuksesan itu tolak ukurnya dengan pekerjaan yang santai dan enak, Mereka baru menganggap bekerja jika duduk dalam kursi kantor, menjadi direktur utama perbankan, menjadi karyawan swasta atau PNS dengan gaji tetap perbulannya yang keluar dari bendahara kantor. Mindset inilah yang menjadikannya berstatus pengangguran.

Saat ini orang-orang khususnya yang katanya pengangguran, lebih mengedepandak ego, gengsi yang mau terjun ke sektor riil seperti halnya pertanian. Ini sudah sangat minim, mungkin ini sebagai akibat dari pola pikir yang salah dari dulu.

Para petani menyekolahkan anaknya dari TK, SMP, SMA, S1, S2, S3, sampai S-TRI hehe, supaya anaknya bisa bekerja di kantoran dengan landasan supaya hidupnya tidak lagi susah seperti dirinya. Dalam proposisi Ilmiah tipikal orang seperti ini masuk kategori “Mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekeil-kecilnya”.

Jika semua petani mencetak pola pikir anaknya dengan cara demikian maka pantas saja saat ini banyak pemuda yang hanya mau kerja di kantoran, sedangkan lahan-lahan pertanian menjadi terbengkalai. Jadilah negara kita kekurangan pangan dan menjadi salah satu negara pengimpor hasil pertanian, termasuk kedelai yang sekarang ini menjadi barang langka, padahal dulu Indonesia dikenal sebagai pengekspor kedelai. Katanya sih begitu. Ini menjadi ironi bagi negara agraris.

Jadi, tugas kalian (Bukan saya) dan juga tugas pemerintah harus berupaya untuk mengubah pola pikir sebagia masyarakat yang salah tentang hakikat pekerjaan itu sendiri, bahwa pekerjaan tidak hanya yang asyik-asyik saja, cukup tuhan saja yang maha Asyik.

2 komentar:

  1. Ngeri juga bacanya :D
    Tapi setidaknya tidak menjadi sampah masyarakat itu sudah cukup untuk saya pribadi dan tmn2 yg lain :v

    BalasHapus
  2. orang indonesia paling malas kalau jadi petani, salah satu bukti saat ini sudah banyak lahan yang kosong, warga lebih memilih untuk merantau meskipin penghasilannya tak jauh beda.
    jika melihat sejarah, dahulu belanda tdk langsung menguasi perekonomian di indonesia, mereka menggunakan metodu sewa menyewa lahan, lahan yang tidak digunakan, kemudian belanda memberikan modal, sedangkan yang bekerja rakyat indonesia,
    khawatirnya peristiwa tsb kembali terulang.

    BalasHapus