23 Des 2016

Sekilas Pesantren Kilatan

Yang masyhur diketahu oleh umat islam Indonesia pada umumnya, ada 2 istilah untuk pesantren saat ini. Pertama; Pesantren Salaf. Kedua; Pesantren Kholaf. Masing-masing lembaga tersebut mempunyai target yang berbeda-beda.

PESANTREN KHOLAF. Anak didiknya dituntut untuk menguasai dua bidang (Agama dan Umum). Sistem yang dipakai mencoba untuk mengkolaborasikan antara klasik dan modern. Sistem ini untuk mengimbangi perkembangan zaman.

PESANTREN SALAF. Ditekankan pada ilmu agama saja (kitab klasik), menerapkan pola tradisional yang berjenjang (Madrasah) sesuai kemampuan. Selain hafalan dan syawir, sistem yang digunakan biasanya bandongan dan sorogan.

• Bandongan adalah kajian kitab yang di Qori' langsung oleh kiai atau ustadz dengan menggunakan makna ala pesantren (Jawa; utawi iku / Madura; thining panika), kemudian santri mendengar serta menulis makna yang dibaca oleh pengajar. Sistem ini bisa bersifat umum (seluruh santri) dan bisa juga khusus (setiap jenjang)

• Sorogan adalah menyetorkan bacaan kitab kepada kiyai atau ustadz. Dengan kata lain, santri yang membaca kitab, kiyai atau ustadz yang mendengarkan bacaan untuk menegur bacaan santri yang salah (latihan baca kitab). Sorogan ini bersifat khusus, bagi santri yang sudah menguasi ilmu alat.

Bagaimana dengan pesantren kilatan?!

Pada dasarnya pesantren kilatan merupakan bagian dari Pesantren salaf, sama-sama menggunakan kitab klasik, seperti Tafsir Al-Qur'an, Hadits, Fiqih, Tasawuf, Ilmu Alat, Falak, dan beberapa fan-fan lainya, hanya saja dipondok Pesantren Kilatan tidak menggunakan sistem sorogan, hafalan, dan tidak ada juga pola clasikal (madrasah atau tarbiyah), hanya fokus bandongan saja. Target yang ditempuh mengkhatamkan berbagai kitab klasik dalam tempo waktu yang singkat.

Dahulu, jika mendengar kata ngaji kilatan, imajinasi setiap santri langsung tertuju pada bulan puasa, yang sudah menjadi agenda umum setiap pesantren baik pesantren salaf maupun kholaf untuk mengisi kekosongan santri yang tidak mudik, namun tidak berlaku bagi Pondok "Roudlotul Ihsan" Pethuk Semen Kediri yang memang secara continue dengan sistem kilatannya.

Pesantren yang didirikan oleh tiga tokoh tersebut (Alm Mbah Abdul karim Fanani {yang masyhur dengan sebutab Mbah Manaf Pethuk}, Alm Mbah Imam Nawawi Fanani, dan Alm Mbah Abu Bakar Bahri) hingga kini tetap konsentrasi secara penuh dengan sistem kilatan yang dikemas dengan beberapa pola. Pertama ; Kilatan bentuk Mingguan. Kedua ; Kilatan Bentuk bulanan, dan Ketiga; kilatan bentuk tahunan.

Kilatan bentuk mingguan. Biasa berlangsung saat liburan maulidun Nabi dan Bulan Sawal sambil menunggu hari efektif.

Khataman bentuk bulanan, khataman betuk ini sudah tidak asing bagi santri karena sudah menjadi agenda umum setiap pesantren disaat bulan puasa.

Khataman bentuk tahunan. Khataman bentuk tahunan ini dikemas dengan empat putaran tahunan, putaran tahun pertama berbagai kitab Fiqh. Tahun kedua Kitab Tasawwuf (disamping kitab-kitab tasawwuf yang lain, kitab Ihya' Ulumiddin merupakan kitab permanen ditahun kedua). Tahun Ketiga kitab-kitab Hadits. Dan tahun keempat kitab kecil-kecil yang meliputi berbagai fan (biasanya dalam satu tahun mencapai hingga 40 macam kitab).

Bentuk ngaji kilatan tersebut bisa direquest, sesuai dengan permintaan santri yang mukim.

Pondok yang berada di pelosok desa itu merupakan salah satu yang hanya fokus menggunakan sistem kilatan (tanpa ada sistem yang lain).

Pondok dengan sistem kilatan ini sangat diperlukan khususnya oleh kaum santri, sebab sanad maknanya bersambung pada ulama-ulama yang berkompeten pada bidangnya. Semisal Ihya Ulumiddin dan syarah Hikam, makna kitab di Pondok tersebut dari Mbah Marzuki Lirboyo. Shahih Bukhori makna kitabnya dari Mbah Jamal Batok-an dan mbah Juhaini Teretek dan lain sebagainya.

Bagi santri sanad ke ilmuan sangat diperhitungkan sebab untuk menyambungkan ilmu dirinya kepada ulama-ulama sebelumnya hingga sampai kepada Rasulullah SAW.

Wallahu A'lam

***
Santrine Abah Yai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar